Emotional Literacy, Hal Penting yang Sebaiknya Diajarkan pada Anak Sejak Dini

Penulis: Habib Yasin S.Pd

SD NEGERI KEBONAGUNG, KEC. TEGALREJO, KABUPATEN MAGELANG 

Editor: Nadin Aulia


Emotional Literacy, Hal Penting yang Sebaiknya Diajarkan pada Anak Sejak Dini


Pernahkah Anda menghadapi orang dewasa, atau bahkan diri Anda sendiri, yang mengalami gejolak emosi yang sangat tidak stabil? Mudah resah, marah tanpa sebab yang jelas, hingga tantrum! Ya, gejolak-gejolak emosi ini sebenarnya terjadi akibat ketidakmampuan individu dalam mengenali emosinya atau memiliki emotional literacy.  Apa itu emotional literacy dan mengapa hal ini demikian penting untuk diajarkan pada anak sedini mungkin?


Dikutip dari situs Earlychildhood.qld, definisi emotional literacy adalah sebuah kemampuan untuk memahami dan mengekspresikan perasaan. Capaian yang diharapkan dalam kemampuan emotional literacy ini adalah membuat anak terhindar dari kebingungan emosional, membangun keyakinan dan sikap asertif pada dirinya sendiri dan dalam jangka panjangnya adalah kebahagiaan serta kualitas hidup yang baik.


Lalu bagaimana menerapkan metode pembelajaran emosional literacy ini pada anak usia masa kanak-kanak awal agar anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang asertif dan terampil dalam mengelola emosinya? Simak langkah-langkah berikut ini!

 

1. Berikan Waktu Tenang untuk Anak

Ketika anak menampakkan perilaku resah, entah itu sebenarnya bersumber dari kemarahan, kecemasan, ketakutan atau bahkan euforia dan rasa senang, ajak anak untuk mengambil waktu tenang sejenak. Anda bisa berkata pada anak dengan bahasa ajakan yang mudah dimengerti anak-anak, misalnyua, "Kakak coba tenang dulu, ambil napas dan diam dulu satu menit. Setelah itu pelan-pelan Kakak ceritakan apa yang kakak rasakan, satu persatu. Yuk, sama Ayah/Bunda... Ayah/Bunda bantu, ya..."

 


2. Latih Anak untuk Mengenali Gejolak Emosi yang Mereka Rasakan

Setelah anak mengambil waktu tenangnya dan keresahannya mereda, Anda bisa mulai membantu anak untuk mendeskripsikan perasaannya melalui pertanyaan-pertanyaan yang memancing anak untuk mau mengeksplorasi cangkang perasaannya sendiri, misalnya ketika Anda membaca perilaku keresahan anak sebagai bentuk ketakutan atau kecemasan, gunakan intuisi Anda sebagai asumsi dasar untuk membantu anak dalam mengeksplorasi perasaannya. Tanyakan pada anak, ajak ia untuk menjelaskan macam keresahan yang ia rasakan. Apa penyebab yang membuat mereka merasakan kecemasan tersebut, kapan ia mulai merasakan keresahan tersebut, dan seterusnya. Jika penyebab keresahan anak dirasa sudah mulai mengerucut, mulai jelaskan pada anak bahwa yang mereka rasakan adalah sebuah perasaan spesifik, misalnya ketakutan. Ajari anak agar di lain waktu mereka perlahan-lahan akan mampu secara instingtif dan jelas mengenali perasaannya sebagai sebuah emosi tertentu.

 


3. Dengarkan Cerita Anak dengan Seksama

Kemampuan mendengarkan merupakan hal wajib yang mesti dimiliki orangtua dan orang dewasa di sekitar anak. Mendengarkan anak dalam proses mengeksplorasi emosi yang dirasakan tanpa terburu-buru menjatuhkan penghakiman dan membiarkan anak secara tuntas menjelaskan perasaannya harus dilakukan oleh orang dewasa agar anak nyaman dan merasa memiliki ruang untuk menjadi dirinya sendiri, serta memahami bahwa apapun yang mereka rasakan adalah valid adanya.

 


4. Latih Anak untuk Menjurnal Emosinya

Jika anak sudah berusia sekolah dasar serta sudah bisa membaca dan menulis, Anda bisa mulai mengajari anak untuk terbiasa menjurnal perasaannya. Langkah paling sederhana di tahap awal yang bisa Anda lakukan untuk membiasakan anak membuat jurnal emosi adalah mendorong anak untuk melepaskan emosi negatifnya secara bebas atau disebut juga sebagai katarsis. Setelah anak mulai terbiasa melakukan hal ini, di tahap selanjutnya bantu anak untuk belajar mengklasifikasikan gejala-gejala perasaan yang mereka rasakan sebagai sebuah emosi yang spesifik. Misalnya, perasaan berdebar sebagai jenis emosi cemas, perasaan gemetar sebagai jenis emosi takut, tertawa sebagai jenis emosi senang, dan sebagainya. Ajak anak untuk menegakkan batasan atas klasifikasi emosi ini agar ke depannya anak memahami dengan jelas apa yang mereka rasakan dan bagaimana menangani berbagai emosi tersebut.

 


5. Latih Kecerdasan Emosi Anak dengan Cerita dan Permainan

Pada tahap lanjut, ketika anak sudah mulai cakap dalam menghadapi emosinya sendiri, mulailah melatih kecerdasan emosi anak agar empati dalam dirinya terasah dengan baik. Anda bisa menggunakan metode bercerita, dan kemudian meminta anak untuk berpendapat mengenai tokoh-tokoh dalam cerita yang Anda sampaikan. Anda juga bisa memberikan anak stimulus berupa permainan seperti role play dengan skenario yang fokus pada soal empati. Lakukan hal-hal ini di saat anak sedang berada dalam keadaan rileks sehingga anak dapat mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan.

 

Kunci keberhasilan dalam mengajari anak perihal emotional literacy ini sejatinya tidak hanya bertumpu pada anak, namun juga orangtua sebagai significant others yang bertanggung jawab dalam proses tumbuh kembang anak. Anda wajib memiliki kemauan dan kemampuan untuk terus belajar, berinovasi serta melakukan introspeksi terhadap diri sendiri. Sebab, meski di sini subyek utama proses pembelajaran adalah anak, orangtua juga mesti terus berproses untuk semakin bijaksana dalam menjadi manusia seutuhnya.

 


#buttons=(OK! Siap.) #days=(20)

Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Pelajari Selengkapnya
Accept !