Menilik Kondisi Pendidikan Ukraina Pasca Perang: Suatu Analisis

Menilik Kondisi Pendidikan Ukraina Pasca Perang: Suatu Analisis





Pendidikan adalah sebuah sektor penting dari semua sektor kehidupan. Pendidikan yang baik akan mencetak sumber daya manusia yang berguna bagi kemajuan negaranya, begitupun sebaliknya. Dalam keberjalanan pendidikan yang baik, pemerintah seharusnya menyediakan fasilitas maupun sarana prasarana yang mendukung dan memadai. Lalu bagaimana jika dua negara terlibat perang hingga berdampak pada terganggunya keberjalanan dunia pendidikan?

Awal tahun 2022 perang antara Rusia dan Ukraina menghebohkan dunia. Isu-isu mengenai Perang Dunia III terus mencuat dibarengi dengan keagresifan Rusia menyatakan operasi militer pada negara tetangganya, Ukraina. Melalui presidennya, Vladimir Putin, Rusia mengumumkan perang dan menyerang Ukraina sejak Februari 2022. Rusia mulai menyerang kota-kota di Ukraina seperti Odessa, Kiev, Kharkiv, dan sebagainya. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Mari kita bahas awal mula perang terjadi yang menyebabkan banyak korban berjatuhan, termasuk anak-anak dan bangunan tempat mereka bersekolah.

Pecahnya Perang di Tahun 2022, Ada Apa dengan Rusia-Ukraina?

Rusia dan Ukraina kembali memanas setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin, dalam pidatonya menganggap Ukraina Modern sebagai ancaman Rusia. Rusia beralasan bahwa tujuan mereka melakukan aksi tersebut adalah usaha melindungi warga yang menjadi incaran genosida dan intimidasi di Ukraina. Tentu saja hal tersebut dibantah langsung oleh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, yang menyatakan tidak ada tindak genosida maupun pengintimidasian warga sipil di Ukraina.

Tindakan Rusia yang berani menyerang Ukraina ini dinilai sebagai intimidasi atas kedekatan Ukraina dengan Eropa yang dianggap sebagai ancaman bagi keamanan Rusia. Rusia terus mengingatkan kepada Barat bahwa Ukraina dan Rusia memiliki identitas yang serupa, namun hal tersebut terus dipatahkan Ukraina dengan aksi mereka yang condong ke Barat. Kecondongan Ukraina pada Barat inilah yang membuat Rusia melakukan serangan sebagai usaha mengembalikan Ukraina menjadi Pro-Rusia. Hingga kini, ketegangan masih terus terjadi dan berdasarkan data OHCHR perang ini telah menewaskan setidaknya 1.892 warga sipil serta 2.558 lainnya terluka per tanggal 13 April 2022.

 Perang yang terjadi antara Rusia-Ukraina berdampak bagi segala sektor kehidupan dua negara. Siapa saja dan apa saja yang masih tinggal di medan peperangan tidak luput atas sasaran rudal maupun tembakan yang dilesatkan. Buktinya, anak-anak yang dilindungi dan dikecualikan pada perjanjian perang pun ikut serta menjadi korban. Bukan hanya itu, hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan sebagai seorang anak pun ikut terampas selama perang masih dilancarkan. Salah satu pemenuhan hak yang harus mereka dapatkan yaitu hak mendapatkan pendidikan yang layak. Bukan hanya bagi anak di Ukraina, anak-anak Rusia pun ikut menanggung dampak adanya perang bagi pendidikan mereka.

Perang dan Dampaknya bagi Pendidikan di Ukraina dan Rusia

Perang yang tidak berkesudahan semakin mengancam bagi kesejahteraan hidup di dua negara yang berselisih. Salah satu sektor yang terdampak dan tidak dapat diacuhkan adalah sektor pendidikan. Baik Rusia maupun Ukraina merasakan adanya dampak bagi pendidikan di negara mereka akibat adanya perang.


A. Hancurnya Sekolah di Ukraina karena Serangan Rusia




Sebuah organisasi non pemerintah bernama Save the Children mengumpulkan data bahwa pendidikan bagi 5.5 juta anak di Ukraina menjadi terbengkalai setelah serangan Rusia ke Ukraina. Setidaknya terdapat 22 sekolah per harinya yang rusak akibat rudal maupun serangan lain yang ditujukan ke Ukraina. Melalui Kementerian Pendidikan Ukraina, Save the Children menyatakan bahwa setidaknya terdapat 869 fasilitas di sekolah rusak parah dan 83 lainnya benar-benar hancur. Kharkiv, sebuah kota di Ukraina dengan penyerangan cukup intens telah mengalami kerusakan pada 50 gedung sekolah sejak serangan pertama di bulan Februari 2022.

Bukan hanya itu, akibat terjadinya perang besar ini beberapa kelas yang masih berdiri tidak lagi menjalankan fungsi sebagai ruang belajar pada umumnya. Kelas-kelas tersebut dijadikan tempat berlindung bagi warga Ukraina dari serangan rudal Rusia. Meskipun, sekolah bukanlah tempat teraman bagi warga untuk bersembunyi dari serangan tentara Rusia. Save the Children mengatakan bahwa meskipun sudah terdapat kata “Sekolah” atau “Anak-Anak” tertulis menggunakan papan akrilik di depannya, tentara akan tetap menyerang tempat tersebut tanpa terkecuali. Setidaknya 3.000 orang ditemukan meninggal di bangunan sekolah oleh tentara Rusia.

Penyerangan terhadap tempat belajar anak bukan baru ini saja terjadi. Sebelumnya saat konflik 2014, terdapat 750 sekolah di Ukraina Timur hancur dan mengganggu puluhan ribu anak untuk mendapatkan hak mereka dalam memperoleh ilmu. Selain itu, anak-anak juga ketakutan dan merasa terancam dengan adanya tentara Rusia yang membawa senjata berkeliling di sekitar sekolah mereka.

B. Kuantitas Guru yang Menurun di Ukraina

Sebelum terjadinya perang, guru atau tenaga pendidik di Ukraina sudah sangat terbatas. Kebanyakan guru di sana merupakan seorang wanita. Namun akibat adanya perang, wanita dan anak-anak banyak diungsikan ke negara lain untuk tinggal di tempat yang lebih aman. Hal ini membuat tenaga didik yang masih tinggal di Ukraina amat sangat terbatas dibanding sebelumnya. Bahkan dari sedikitnya guru yang masih tinggal beberapa meninggal akibat serangan dari Rusia. Seperti yang terjadi di Gorlovka, Ukraina Timur dua guru dikabarkan meninggal setelah rudal menghantam sekolah tempat mereka mengajar.

Sebelum adanya perang, organisasi non pemerintah Save the Children telah banyak memberikan bantuan tenaga didik dan kebutuhan lainnya di Ukraina bagian timur. Namun di masa perang ini mereka terus menekankan adanya penyerangan di sekolah dan anak-anak merupakan sebuah pelanggaran berat dan dapat diklasifikasikan sebagai sebuah kejahatan perang. Semua anak dan guru harus dilindungi dari segala ancaman dan kejahatan perang yang terjadi.


C. Anak sebagai Korban Perang






Dalam perjanjian perang internasional telah ditetapkan bahwa anak-anak bukanlah sasaran dari serangan saat terjadi perang, begitu pula dengan sekolah. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak bukan tempat yang memunculkan rasa takut, sakit, dan kematian. Namun belakangan ini hal tersebut tidak dirasakan oleh anak-anak yang berada di Ukraina. Setelah ketegangan hubungan terjadi di Rusia-Ukraina, sekolah bukan lagi tempat aman bagi mereka untuk menuntut ilmu. Sekolah juga bukan lagi prioritas melainkan menyelamatkan nyawa mereka dari serangan Rusia.

Sebelum diungsikan ke tempat yang lebih aman, awalnya anak-anak dan guru di Ukraina masih melakukan kegiatan belajar mengajar sebagaimana mestinya. Hingga pada 21 Februari 2022 setelah adanya penyerangan Rusia, Save the Children mencatat ada 350.000 anak tidak memiliki akses untuk bersekolah. Di bagian lain Ukraina, sekolah masih tetap berjalan dengan murid yang diwajibkan menempel tipe golongan darah mereka di tubuh untuk penanganan cepat ketika mendapatkan sebuah serangan. Selain itu jumlah anak yang ikut menjadi korban dalam perang semakin bertambah setiap harinya. Di Okhtyrka, anak perempuan berusia 7 tahun ditemukan meninggal bersama 6 orang lainnya. Lalu terdapat laporan dari PBB bahwa ditemukan 10 anak meninggal setelah penyerangan Rusia. Yang terbaru, satu anak menjadi korban di Bakhmut setelah rudal Rusia melenyapkan wilayah sekitarnya. Tentu masih banyak anak yang menjadi korban dalam perang antara Rusia dengan Ukraina yang belum dilaporkan media. Padahal sudah jelas dalam peraturan, anak tidak boleh dijadikan target ketika perang terjadi.

D. Perundungan yang Dialami oleh Anak-Anak Rusia





Selain berimbas pada anak di Ukraina, anak-anak Rusia pun mendapatkan dampak dari terjadinya perang. Save the Children telah mencatat adanya tindak pelecehan dan adanya ujaran kebencian secara langsung maupun online yang terjadi di lingkungan sekolah. Perundungan terjadi salah satunya didapatkan oleh anak-anak asal Rusia yang bersekolah di Denmark. Mereka menjadi takut untuk bersekolah dan beralasan sakit agar tidak bertemu teman-teman mereka. 

Selain itu perlakuan diskriminasi juga didapatkan mahasiswa Rusia yang bersekolah di Amerika, mereka dilarang berangkat ke universitas dan dihimbau untuk meninggalkan Amerika secepatnya. Selain mendapat tindak diskriminasi, mahasiswa Rusia yang memiliki proyek penelitian dengan beberapa negara eropa harus terpaksa diberhentikan. Jerman sebagai negara yang menganggap tindakan Rusia atas Ukraina sebagai pelanggaran berat hukum internasional memilih menghentikan penelitian yang dilakukan dengan peneliti Rusia. Begitupula yang dilakukan oleh Inggris yang memberikan sanksi atas tindakan Rusia terhadap Ukraina sehingga harus memutus kerjasama penelitian terkait iklim dan ruang angkasa, meskipun sebagian peneliti Rusia di Inggris juga tidak menyetujui tindakan yang dilakukan negaranya.

Sentimen anti Rusia tentunya semakin berkembang apalagi di negara-negara Eropa dan Amerika. Meskipun anak-anak tersebut tidak melakukan kejahatan perang ataupun melanggar peraturan, namun status kewarganegaraan mereka berimbas pada adanya diskriminasi. Pemerintah bersama dengan organisasi non pemerintah yang bergerak di perlindungan anak giat untuk mengedukasi anak-anak dari berbagai negara untuk mendiskusikan perang yang menimpa Ukraina tanpa menjatuhkan Rusia dan warga negara Rusia yang tinggal di luar negeri.

Perang memang sudah terjadi dan masih belum mendapatkan titik terang perdamaian. Namun mengorbankan pendidikan anak dan nyawa anak dalam sebuah peperangan merupakan tindak kejahatan perang. Sebagai orang yang berilmu dan berakal, hendaknya kita dapat menyelamatkan mental anak dengan memberi pengertian mengenai perang dan dampaknya dari kedua sisi. Sehingga diharapkan tidak akan terjadi diskriminasi dan ujaran kebencian berlebih yang tidak berdasar. Kita mungkin tidak bisa menyelamatkan dunia, tapi kita bisa menyelamatkan karakter anak agar tidak menjadi perundung serta berhati-hati dalam berucap dan bertindak.

“Sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi anak-anak, bukan tempat yang menimbulkan rasa takut, rasa sakit, atau kematian.”- Save the Children.





#buttons=(OK! Siap.) #days=(20)

Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Pelajari Selengkapnya
Accept !